Mentari Pagi

decor

Sebelum Segalanya Menjadi Terlambat

Sebelum Segalanya Menjadi Terlambat

Pagi adalah hadiah. Kita terbangun bukan karena alarm yang berbunyi, tetapi karena Allah SWT masih ingin memberi kita waktu. Waktu untuk kembali, merapikan hati, memperbaiki langkah, dan mendekat pada-Nya.

Ada ayat dalam Al-Qur'an yang sering mengetuk hati: Al-An‘ām: 158, ayat tentang sebuah detik ketika segala penyesalan tidak lagi berguna, ketika pintu itu tertutup selamanya.

Di pagi ini, kita belum berada di detik itu. Matahari masih terbit dari timur, bukan dari barat sebagaimana tanda akhir yang menjadikan iman tak lagi diterima. Hari ini, Allah SWT masih membuka pintu taubat-Nya dengan begitu luas.

Ibnu Katsir mengingatkan: akan datang waktu ketika manusia berkata dengan dada yang sesak, “Ya hasratanā… alangkah ruginya kami…” Tetapi pagi ini, Allah belum menuliskan itu untuk kita. Kita masih diberi kesempatan sebelum kata "terlambat" menjadi kenyataan.

Sayyid Qutb menuliskan bahwa ketika saat itu tiba, manusia ingin kembali, ingin memperbaiki, ingin mengulang, tapi jalan sudah tertutup, karena iman yang hadir karena keterpaksaan tidak lagi bernilai.

Tetapi sekarang… di pagi ini… kita masih bisa memilih dengan tenang, tanpa ketakutan, hanya dengan kesadaran bahwa hidup ini rapuh dan kesempatan tidak selalu kembali.

Maka bersyukurlah untuk pagi ini. Untuk nafas yang masih hangat. Untuk hati yang masih bisa lembut. Untuk perjalanan yang masih bisa kita arahkan ke tempat yang Allah SWT ridhai.

Hari ini, sebelum dunia sibuk merenggut perhatianmu, katakan pada dirimu:

“Aku ingin hidup hari ini dengan sadar. Dengan hati yang kembali kepada Allah SWT. Dengan niat yang jernih. Dengan langkah yang tidak menunggu esok.”

Karena selagi matahari masih terbit dari timur, selagi pintu masih terbuka, selagi Allah SWT masih memanggil, maka tidak ada kata terlambat bagi hati yang ingin kembali.

Selamat menjalani pagi. Semoga Allah SWT menuntun setiap langkahmu menuju kebaikan, ketenangan, dan keberkahan.